Monday, May 04, 2009

Gold Mining Phenomenon

Kisah Pencari Emas di Sekotong - Lombok Barat
Oleh. fda widodo


Sekotong merupakan salah satu kecamatan di wilayah kabupaten Lombok Barat. Kecamatan yang sebagian wilayahnya merupakan pesisir pantai dengan panorama indah dengan hamparan pasir putihnya adalah kecamatan yang kaya akan potensi panorama alam. Hal inilah, maka tak heran jika pemerintah Kota Mataram menjadikannya sebagai daerah yang berpotensi secara geografis alamnya selain kabupaten lain di wilayah Nusa Tenggara Barat. Wilayah Sekotong sendiri dapat ditempuh dari Kota Mataram selama kurang lebih 2 jam dengan berkendara roda empat ke arah Timur kota.

 

Satu hal yang unik telah terjadi di Sekotong sekarang. Masyarakat yang tadinya bermatapencaharian sebagai nelayan ataupun petani kebun, kini telah banyak berganti profesi sebagai pencari emas. Hal ini diakibatkan telah ditemukan sumber emas di wilayah perbukitan Sekotong. Tidak hanya perbukitan saja, tetapi wilayah punggungan bahkan tepian bukitpun tak lepas dari incaran para pencari emas tersebut. Para pencari emas yang umumnya berkelompok ini tersebar merata di sepanjang perbukitan yang ada di Sekotong. Konon, para pencari emas ini berjumlah ribuan dan telah melakukan penggalian selama berbulan-bulan.

Dari salah seorang pencari emas, dari setiap kilogram batuan yang diangkut dapat dihasilkan bergram-gram emas. Hingga tak salah jika salah seorang pencari emas yang tadinya berprofesi sebagai pencari kayu bakar dan berkebun telah dapat merubah nasibnya menjadi seorang pengusaha emas dan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya hingga berlebih dan mampu membeli 1 unit kendaraan roda empat. Selain itu juga, telah menjadi rahasia umum di antara pencari emas tersebut bahwa beberapa waktu lalu seorang pencari emas mendapatkan emas hingga 20 Kg dari bongkahan batu yang dihancurkannya.

Ternyata, kabar tersebut tidak hanya terdengar di wilayah Lombok saja tetapi telah menyeberang hingga di luar pulau. Hingga akhirnya pendatang dari wilayah lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, dan pulau-pulau tetangga berdatangan untuk mengadu nasib di Sekotong demi impian seonggok emas yang ada di benak mereka. Dan kini, Sekotong telah ramai dihuni oleh para pencari emas.
 

Adapun cara pencari emas tersebut cukup unik untuk mendapatkan emas itu sendiri. Mereka menggali sisi punggungan bukit atau juga tepian bukit, kemudian batuan hasil penggalian dipecah kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam karung yang kemudian diangkut menuju tempat pemrosesan lebih lanjut. Mereka ternyata telah mengenal air raksa (Hg) yang merupakan cairan penting dalam pemisahan bijih emas dari materi lain. Namun, mereka enggan mengutarakan bagaimana perlakuan sisa buangan yang telah tercampur dengan logam berat tersebut.


Tidak jelas asal muasal timbulnya transformasi yang ada di Sekotong ini. Pemerintah daerah pun cenderung mendiamkan saja apa yang terjadi terhadap wilayahnya sekarang. Tapi yang jelas, kondisi perbukitan di Sekotong telah menjadi seperti lubang-lubang sarang lebah yang tersebar dari perbukitan hingga sisi bawah perbukitan. Tentang air raksa yang diikutkan dalam pencarian emas itu sendiri seperti hanya isapan jempol saja. Sadar ataupun tidak, mereka telah bercengkrama dengan bahaya itu sendiri. Hal ini terletak pada penanganan logam berat berupa cairan yang terkenal akan bahayanya jika terlepas di alam. Secara samar masih berbekas diingatkan kasus Minamata di Jepang dan juga kasus yang telah menjadi isu internasional di perairan Teluk Buyat. Akankah hal ini tetap akan dilanjutkan untuk dikemudian hari?


 Lombok, 28-30 April 2009.

kredit foto
: fda widodo


Let's Know About One of Coral Reef Rehabilititions

Transplantasi Terumbu Karang
Salah Satu Cara Program Rehabilitasi Terumbu Karang
Oleh. fda widodo

Apakah Terumbu Karang itu?
Terumbu karang merupakan bangunan kapur (CaCO3) atau kalsium karbonat yang merupakan buah karya antara hewan karang dan tumbuhan bersel satu yang dinamakan dengan zooxanthelae. Jadi, terumbu karang merupakan rumah bagi mereka berdua.

Jadi, Terumbu Karang itu hewan atau tumbuhan?
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, terumbu adalah bangunan yang terbuat dari kerangka kapur. Sedangkan karang itu sendiri merupakan hewan. Jadi, terumbu karang merupakan satu kesatuan rumah yang didominasi oleh hewan karang.

Terus, kenapa terumbu karang itu warnanya beragam?
Telah diketahui jika hewan tidak memiliki zat penghasil warna. Hanya tumbuhanlah yang memiliki kemampuan untuk itu. Zat warna ini dihasilkan oleh bagian sel yang bernama kloroplas. Sehingga dengan banyaknya ragam warna yang terlihat pada terumbu karang dapat dibuktikan jika terumbu karang tidak hanya hewan saja yang mendiaminya, melainkan kerabat dekat nya tumbuhan (algae) pun turut membantu segala kinerja dari hewan karang. Ujud dari bantuan algae yang dalam hal ini adalah algae sel satu adalah dengan mendepositkan makanan yang dihasilkan dari proses fotosintesa sebagai pajak atas tumpangannya pada terumbu karang. Makanan dari si algae inilah yang kemudian digunakan hewan karang untuk asupan energinya untuk membangun rumah (kerangka kapur). Konon, hampir 50% jumlah energi tersebut dari deposit algae sel satu tersebut.

 
Gambar 1. Terumbu karang dari jenis Acropora donei, merupakan salah satu terumbu yang elok untuk dipandang.


Apakah yang memiliki terumbu dan algae sel satu hanya terumbu karang saja?
O tidak. Bangunan terumbu yang terdiri dari zat kapur dapat ditemukan pada hewan laut lain yang memiliki bangunan yang terdiri kapur juga. Hewan ini adalah kerang (Kima Tridacna sp) ataupu keong. Sedangkan algae sel satu dapat ditemukan pada kerabat terumbu karang lain, seperti karang lunak (Sarcophyton sp), Kerang Tridacna gigas, T. squamosa, atau Tridacna
lainnya. Ciri khas adanya algae sel satu adalah bahwa permukaan tubuh hewan memiliki ragam warna jika dibandingkan antara satu dengan yang lain.
 
Gambar 2. Kima atau Tridacna sp, merupakan contoh bangunan kapur non karang dan juga di kima dapat ditemukan algae sel satu zooxanthelae pada permukaan 'daging'nya.


Bagaimana dengan Transplantasi karang itu sendiri?
Transplantasi terumbu karang merupakan salah satu metode untuk memperbanyak jumlah terumbu karang dengan cara cepat. Caranya adalah dengan mengambil fragmen terumbu karang, lalu menempelkan pada substrat yang telah disediakan. Umumnya substrat yang dipakai merupakan blok semen+pasir. Kemudian fragmen terumbu atau bibit karang itu diikat pada substrat tersebut. Kegiatan transplantasi karang merupakan salah satu kegiatan untuk merehabilitasi karang pada wilayah terumbu karang yang telah mengalami kehancuran.


Gambar 3. Bibit karang yang disusun pada rak dan dilekatkan pada substrat buatan.



Apakah setelah itu bisa tumbuh?
O, tidak semudah itu. Kegiatan transplantasi itu sendiri tidak hanya melulu pada proses pemindahan bibit dan pengikatan pada substrat saja, melainkan juga menyangkut tentang perawatannya. Perawatan ini ditujukan pada pembersihan substrat buatan karang dari gangguan makhluk lain yang memiliki pertumbuhan lebih cepat, seperti makro algae atau biota pengganggu lain. Untuk pertumbuhan karang hasil transplantasi itu sendiri tergantung pada jenis ataupun bentuk pertumbuhan karang. Bentuk pertumbuhan bercabang relatif lebih cepat dibandingkan dengan bentuk pertumbuhan massive (bulat padat). Dari hasil penelitian yang ada, ternyata bentuk bercabang jika dirawat selama kegiatan transplantasi dapat tumbuh 5 - 9 cm per tahun, sedangkan bentuk pertumbuhan massive hanya 1 - 2 cm per tahunnya.

Gambar 4. Rangkaian perawatan hasil transplantasi karang merupakan kegiatan wajib untuk mendapatkan hasil optimal bagi kegiatan rehabilitasi terumbu karang.

OK deh!!!
Yah, seiring dengan berlalunya waktu, kegiatan transplantasi kini telah dikembangkan untuk pembudidayaan karang-karang hias yang nilai ekonomis tinggi bagi para pembudidaya di wilayah pesisir. Sekarang karang hias hasil budidaya telah banyak di ekspor baik lokal maupun internasional. Hal ini membuat para pembudidaya mengembangkan program F2 atau F3. Filial (F) merupakan keturunan dari hasil budidaya. Pada F1 merupakan hasil transplantasi dari Parental (P) alami yang kemudian dijadikan sebagai P1 untuk induk hasil transplantasi. F1 atau P1 inilah yang kemudian akan diperbanyak melalui transplantasi secara berkesinambungan.

foto kredit : fda widodo doc. dan Bapak Surya Saputra