Wednesday, July 29, 2009

Ketapang - Lampung Province

Menilik Budidaya Rumput Laut di Laut Keruh
Ketapang - Lampung Selatan
oleh. fdawidodo

Akhirnya sampai juga di Ketapang, Lampung Selatan setelah mengalami perjalanan lebih dari 2 jam pakai mobil. Daerah yang dulu pernah kukunjungi (sekitar 6 tahun lalu) tidak banyak mengalami perubahan terutama suasana pesisir dengan panorama laut yang selalu keruh sepanjang waktu.



Daerah Ketapang yang secara administratif berada di Kabupaten Lampung Selatan ini merupakan wilayah pesisir dengan penduduknya yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Sudah sekitar 2 tahun belakangan ini, penduduk telah memiliki mata pencaharian alternatif, yakni mengusahakan wilayah pesisirnya dengan budidaya rumput laut. Saya sendiri sangat heran akan adanya usaha ini. Padahal, menurut pemahaman yang saya miliki, rumput laut atau seaweeds tidak akan mau tumbuh dan berkembang pada perairan yang notabene memiliki visibilitas rendah alias keruh. Ehm...luar biasa. Saya pun jadi tertarik untuk mengamati aktivitas mereka dari mulai pemasangan bibit, penanaman, hingga perlakuan hasil panen.

Dari hasil diskusi, ternyata usaha ini merupakan suatu program pemerintah daerah dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kab Lampung Selatan dan merupakan suatu usaha kelompok nelayan. Untuk rumput laut yang telah dibudidayakan sendiri merupakan jenis Euchema cottonii, karena jenis lain seperti Gracilaria sp, Euchema spinosum, Sargassum sp, dan lainnya tak mampu tumbuh dan berkembang pada lingkungan perairan yang bervisibilitas kurang dari 10 cm ini!!

Untuk prosesi penanaman, sebelum bibit terpasang di tali plastik, terlebih dahulu tali plastik disucihamakan dengan bantuan sinar matahari dan pencucian untuk membebaskan dari parasit atau organisme lain (jenis moluska) yang nantinya akan mengganggu jalannya budidaya. Setelah tali untuk tempat diikatnya bibit bersih, maka beberapa bagian tali diberi pelampung yang umumnya hanya berupa botol plastik bekas kemasan air mineral.



Gambar 1. Hanya berupa tali plastik dan beberapa buah botol plastik sebagai pelampung inilah yang menjadi modal dasar beberapa kelompok nelayan melakukan usaha budidaya rumput laut

Setelah tahap awal persiapan tali plastik dan komponen awalnya, maka selanjutnya dilakukan pemasangan bibit rumput laut yang biasanya merupakan usaha pemisahan beberapa kg dari hasil panen yang didapat.





Gambar 2. Sungguh pemandangan yang menyenangkan melihat gurauan para ibu dan bapak warga pesisir Ketapang sembari melakukan pemasangan bibit rumput laut

Setelah rumput laut yang bakal menjadi bibit terpasang pada tali plastik, maka waktunya pemasangan untaian-untaian bibit tersebut pada areal lahan yang telah disediakan dan jaraknya pun tak jauh dari areal tempat tinggal mereka. Areal yang menjadi tempat pembudidayaan rumput laut ini relatif cukup luas, hampir 5 Ha luasnya. Di beberapa tempat dari areal ini telah ditancap beberapa tiang kayu sebagai tempat pemasangan bibit yang terikat pada tali plastik.




 Gambar 3. Disinilah tempat bersemayamnya bibit rumput laut yang akan dibudidayakan bergantung



Setelah menunggu selama 35 - 45 hari, maka saat yang dinantikan para pembudidaya tiba. Panen rumput laut yang diidam-idamkan pun terjelan sudah. Karena kondisi perairan yang relatif keruh, penampakkan morfologi rumput laut yang didapatpun agak sedikit berbeda jika dibandingkan dengan rumput laut pada perairan jernih. Biasanya, rumput laut hasil panen di Ketapang ini berwarna coklat kehitaman sehingga tidak menarik bagi para pembeli yang biasanya datang sendiri di areal penanaman ini. Untuk mengatasi penampilan yang buruk dari rumput laut hasil panen, masyarakat telah memiliki cara tersendiri guna menyulap warna rumput laut dari coklat kehitaman menjadi putih kehijauan. Ada beberapa jalan yang digunakan untuk itu, antara lain dengan :
  • Fermentasi, cara ini dilakukan dengan membungkus hasil panen dengan lembaran plastik transparan dan kemudian dijemur di bawah terik matahari selama 1 - 3 hari. Cara ini terbilang unik, setelah melewati penjemuran maka warna rumput laut yang semula coklat kehitaman akan menjadi putih kehijauan.
  • Perendaman dalam larutan kapur (CaCO2). Cara ini dilakukan dengan melakukan perendaman hasil panen dalam larutan kapul sirih selama 1-2 hari, setelah proses perendaman maka warna coklat kehitamanpun rontok dan rumput laut hasil panen sekarang menjadi hijau.





Gambar 4. Fermentasi dan perendaman hasil panen rumput laut dilakukan untuk mendapat hasil panen yang menarik untuk dilihat.



Gambar 5. Tempat penyimpanan sementara yang kelak akan menjadi tempat penyimpanan hasil panen rumput laut di Ketapang, Lampung Selatan


Setelah semuanya hasil panen kering, maka langkah selanjutnya adalah penyimpanan untuk sementara pada gudang penyimpanan dan untuk kemudian hasil budidaya tersebut dikirimkan pada pelanggan yang umumnya berasal dari Jawa. Agaknya, hasil yang didapat di daerah Ketapang ini belumlah dapat mencukupi kebutuhan pasar akan rumput laut kering berkualitas. Tapi, semuanya telah dimulai sekarang. Wilayah yang notabene tidaklah cocok untuk budidaya rumput laut, kini telah disulap menjadi tempat menyenangkan dan penuh pengharapan dari sekelompok nelayan pesisir Lampung Selatan ini. Semoga untuk ke depan akan menjadi lebih baik.



kredit foto: fdawidodo

Condong Island - Lampung Province

Antara ' the three musketeer' Pulau Condong Laut - Bule - Condong Darat
oleh. fdawidodo

Perjalanan kali ini tak akan jemu kulakukan. Bersama rekan dari Jakarta, seorang konsultan beranjaklah kami dari kehingarbingaran kota Bandar Lampung menuju salah satu pulau kecil di Kabupaten Lampung Selatan, Pulau Condong Laut namanya. Dengan menyeberang dari Desa Rangai dengan memakai speed boat agaknya tak membutuhkan waktu lama mendekati serakan pulau-pulau yang berada di daerah Katibung, Lampung Selatan ini (5 menit). Pulau-pulau tersebut adalah Pulau Condong Laut, Condong Darat, dan Bule.

Pulau Condong Laut yang merupakan sasaran utama kunjungan kami kali ini merupakan pulau tak berpenghuni. Pulau yang memiliki luas sekitar 47 Ha ini bertopografi landai hingga dataran tinggi, sehingga sepintas jika terlihat dari jauh seperti bukit kecil yang menjulang di atas permukaan laut. Selain tak berpenghuni, pulau ini merupakan salah satu tujuan wisata pulau yang ditawarkan dari pihak pengelola Taman Hiburan Rakyat Pasir Putih Provinsi Lampung.

Tujuan kami ke Pulau Condong ini adalah untuk mengetahui segala bentuk aktivitas yang berlangsung di pulau kecil, seperti aktivitas nelayan ataupun aktivitas lainnya. Oleh karena Pulau Condong Laut tak berpenghuni, maka kami memilih pulau tetangga, yakni Pulau Bule. Sebenarnya kami ingin juga ke Pulau Condong Darat, tapi karena pulau ini milik seseorang (TW) yang sangat terkenal di Negara Indonesia maka kami mengurungkan niat untuk menyambangi pulau yang telah dibangun villa asri dan dermaga sandar kapal pesiar ini.

Hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit ke arah Barat Daya dari Pulau Condong Laut, tibalah kami di Pulau Bule. Pulau yang memiliki luas lebih dari 25 Ha ini ternyata telah dihuni oleh para petani Keramba yang mengusahakan ikan Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis) dan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscogutattus) dalam keramba jaring apung (KJA). Mungkin sekitar 500 m persegi luasan keramba yang dipunyai salah satu pengusaha kerapu ini.



Gambar 1. Disebelah Utara Pulau Bule dapat terlihat Pulau Condong Laut dan sebelah Timur Laut terlihat panorama Pulau Condong Darat.

Selain ikan konsumsi tinggi (Kerapu), pengusaha keramba (Pak Harry - red) juga melakukan pembesaran terhadapa berbagai jenis ikan ekonomis lainnya, seperti Kakap Merah/Red Snapper (Lutjanus sp), Simba/Traveller (Gnathanodon speciosus), berbagai jenis parrot fish, ikan hias serperti Angel Fish (Heniochus sp), dan lain sebagainya.





Gambar 2. Beberapa jenis ikan ekonomis selain kerapu yang turut dibesarkan dalam keramba jaring apung seperti ikan hias, ekor kuning/yellow tail, parrot fishes, traveller fish, dll

Dari pantauan kami, agaknya usaha budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung di Pulau Bule ini tidak luput dari persoalan utama yang dihadapi oleh banyak pengusaha keramba lainnya. Seperti halnya menurut penuturan Pak Harry, "Tahun 2007 - 2008 merupakan masa kebangrutan kami, mas. Karena pada saat itu, kami benar-benar tidak bisa panen akibat kematian massal yang terjadi pada jenis ikan kerapu dalam keramba. Ini tidak hanya terjadi di daerah ini, tetapi di semua tempat di Indonesia bahkan di luar negeri pun merasakan imbas dari bencana hebat ini. Kami sendiri tidak tahu persis penyebab dari bencana hebat itu."

Setelah mendengar cerita Pak Harry yang cukup tragis, berdasarkan sedikit pengalaman yang pernah saya alami sebenarnya ada beragam faktor yang menyebabkan satu usaha budidaya kerapu menjadi tidak berhasil, Pak. Selain karena faktor manusia (penggunaan potassium dan pengeboman disekitar areal keramba), faktor alam (gelombang dan arus besar), skill petani keramba (cara perawatan ikan dll), juga adanya faktor biologis seperti adanya parasit ataupun bakteri yang relatif sangat mudah sekali menjangkiti ikan dalam keramba. Umumnya parasit yang menjadi momok bagi pengusaha ikan kerapu adalah parasit Diplectanum (monogenetik trematoda insang) dengan jenis Benedenia sp dan bakteri Vibrio sp. Selain itu juga beberapa parasit (jamur) yang menyebabkan kulit berbecak putih (white spot) dan bahkan parasit viral (virus) pun turut menyebabkan si kerapu menjadi lemas dan akhirnya mati. Kematian yang ditimbulkan oleh adanya parasit dan bakteri tersebut amatlah cepat karena pada umumnya mereka (jenis-jenis parasit) memiliki virulensi tinggi sehingga hanya membutuhkan waktu singkat untuk menyebabkan satu areal keramba akan kehilangan seluruh ikan budidayanya dalam hitungan jam hingga hari.

Untuk mengatasi ataupun mengurangi dampak kematian massal yang mewabah, sebenarnya ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang pengusaha salah satunya adalah melakukan treatment berupa penambahan multivitamin pada ikan kerapunya. Selain itu juga, faktor lain seperti kebersihan dari jaring keramba cukup berperan penting dalam satu usaha mencegah terjadinya wabah penyakit. Hal ini membutuhkan sedikit kerja keras dan keuletan dan pelaksanaan budidaya.

Cukup lama kami berada di areal keramba Pulau Bule ini. Hingga saatnya setelah dirasakan cukup, kamipun berkemas untuk kembali lagi melanjutkan perjalanan kami yang masih cukup panjang.




Katibung, July 2009

foto kredit: fdawidodo


Monday, July 27, 2009

Krakatau - Untuk Sekian Kalinya

Tour de Krakatau

Waktu yang kunantikan akhirnya jatuh dihadapannku. Setelah penantian beberapa hari, saatnya keberangkatan menuju gugusan Krakatau demi merayakan satu peristiwa yang mungkin agak prematur saatnya. Review kembali letusan Krakatau Tua 27 Agustus 1883 tahun ini lebih dimajukan lagi, kemungkinan tibanya Bulan Ramadhan di Bulan Agustus agaknya menjadi faktornya. Gak papa, yang penting bisa ke Krakatau lagi.

Pukul 06.20 WIB
Kupacu semog sekencang-kencangnya untuk bergabung dengan rombongan yang mungkin telah jemu menunggu. Maklum, tak terbiasa bangun terlalu pagi. (hehehehe...). Setelah mendapat kendaraan roda empat, akhirnya meluncurlah rombongan menuju Bakauheni tempat seluruh peserta berkumpul.

Pukul 07.40 WIB
Olalala...ternyata bukan di pelabuhan Bakauheni melainkan di Tugu Siger (Chicken Mess) Bakauheni tempat pembukaan dan berkumpulnya para pencinta Krakatau. Padahal, hasrat ini menginginkan segera naik kapal dan terus menuju gugusan Krakatau yang kuidamkan. 2 kali penampakkan gak bersahabat selama perjalanan kami, 2 truk mlumah dan terjengkang...hmm..gak nyaman pokoknya. Selang tak berapa lama, terkumpulah semua peserta dari beragam golongan dan bangsa di Tugu Siger yang tahun ini merayakan ultah juga yang I...

Pukul 11.30 WIB
Nah, saatnya bergegas menuju target utama. Seperti tahun laluk, Ferry Windu Karsa menjadi tumpuan dan sandaran kami untuk mendapatkan momen di gugusan Krakatau tahun ini. Lebih kurang 13 knot dengan kecepatan arus laut mencapai 3 m/det, melajulah si Ferry ke arah Krakatau.

Pukul 12.55
Mendebarkan, itulah kesan yang entah keberapakalinya ketika kami menatap gugusan Cagar Alam Laut dengan luas mencapai 13.735 Ha dan sekaligus sebagai World Heritage ini. Sayup-sayup kudengar teriakan-terikan heboh beberapa tamu yang terkagum melihat bentangan alam dihadapan kami. Agaknya Si Anak Krakatau gak mau ketinggalan, begitu melihat kami mendekat maka dilontarkanlah beratus-ratus kubik material debu vulkanik ke udara..."Hai manusia...selamat datang di kediamanku"...katanya...(12.58 wib). Yah, mungkin berton-ton tephra terlontar ke udara ketika kapal kami mendekati kediaman sang krakatau. Begitupun ketika kami melewati sang induk Anak Krakatau, Rakata, iapun serta merta melontarkan kembali tephra ke udara (13.01 wib) dan diakhiri dengan keseleknya si Anak Krakatau (hehehe...)...13.11 wib.

Ketika kami terkagum-kagum atas sambutan antusias dari Anak Krakatau, sekonyong-konyong dari arah Tenggara ferry, melompat dan berjumpalitan di udara sahabat Anak Krakatau, Longnose dolphin (Stenella longirotris). Mungkin ada sekitar 6-12 ekor si akrobater air melintasi ferry yang kami tumpangi. Beberapa tamu menjerit girang melihat kejadian langka ini (13.20 wib). Ketika sedang girang-girannya kami, terdengar dentuman dasyat dari arah depan ferry. Aih, si Anak Krakatau juga tergirang-girang melihat teman sepermainannya, tak tanggung-tanggung ia semburkan abu vulkanis keabuan ke udara...(13.22 wib). Tak lama berselang, diiringi dengan riuh tepuk tangan, para akrobater tersebut meninggalkan areal gugusan Krakatau dengan lontaran abu vulkanis sebagai kata selamat jalan dari Anak Krakatau (13.29 wib) yang dilanjutkan sebanyak dua kali hingga temannya menghilang ke arah matahari tenggelam (13.37 wib dan 13.04 wib).

Selang beberapa saat setelah kemunculan beberapa sahabat mamalia laut tersebut, rombongan nelayan dari pulau tetangga gugusan Krakatau (Pulau Sebesi) menyambut kedatangan kami yang diikuti dengan gemuruh gempita Anak Krakatau (13.56 wib). Abu vulkanis dalam satuan tephra ini lebih dasyat dibandingkan tadi. Suaranya pun luar biasa indah...Mungkin Bom di JW Marriot pun kalah oleh keindahan suara Anak Krakatau. Semua pengunjung pun merasa takjub mendengar dan melihat kejadian ini...Sungguh elok karena kejadiannya berulang-ulang...(14.20 - 14.22 - 14.24 - 14.30 wib). Hingga akhirnya kembali sunyi kembali...

Pukul 14.31 WIB
Dan akhirnya, semuanya memang harus berakhir. Dengan diiringi semburan tephra ke udara (14.38 wib dan 14.40 wib), melenggoklah ferry kami menuju pelabuhan Merak untuk menghantar beberapa pengunjung yang berasal dari dataran Jawa.

Krakatau in actions on August 26, 2009
started at 12.30 WIB to 15.00 WIB
  • Ledakkan Pra Paroksimal berjeda 1 - 6 menit pada pukul 12.58 - 13.44 WIB
  • Ledakkan Paroksimal terjadi pada pukul 13.56 WIB
  • Ledakkan Post Paroksimal berjeda 2 - 8 menit pada pukul 14.20 - 14.40 WIB
Krakatau Islands on August 26, 2009

Tuesday, July 21, 2009

Kiluan Fishing Week 09

Kiluan Fishing Week IV 2009
Pulau Kelapa - Teluk Kiluan - Tanggamus - Lampung

Kiluan Fishing Week (KFW) yang pada tahun ini merupakan kali IV dilaksanakan pada tanggal 18 - 20 Juli 2009. Pelaksanaan dimulainya kegiatan yang merupakan agenda tahunan ini dibuka secara resmi di lapangan SD N Pekon Kiluan Negeri, Tanggamus dengan Kepala Dinas Pariwisata yang membuka rangkaian acaranya. KFW 09 ini agak sedikit berbeda dibandingankan pelaksanaan pada tahun-tahun lalu, hal ini terlihat selain dari jumlah peserta nya yang mencapai 40 orang (tahun lalu 25 orang) juga rangkaian acaranya tidak berdampingan dengan perayaan 17 Agustus Kemerdekaan RI.




Peserta KFW kali ini terdiri dari beragam kalangan. Tidak hanya para pengusaha, tapi beberapa karyawan dari salah satu perusahaan, para hobiis pancing, dan pecinta kegiatan alam bebas pun turut serta dalam pelaksanaan KFW ini baik dari Lampung sendiri maupun dari luar provinsi semua yang membaur dalam tenda-tenda yang menjadi tempat mereka bernaung nantinya. Tak ketinggalan, para jurnalistik dan fotografer pun mengikuti seluruh rangkaian acara ini dengan cukup antusias.




Bagi mereka, berkunjung ke Teluk Kiluan adalah pengalaman unik tersendiri, walaupun tidak mengikuti kegiatan pancing yang merupakan event utama dari rangkaian acara ini. Mereka dapat melihat bentangan alam luar biasa dari sosok teluk kecil yang berada di dalam Teluk Semaka Provinsi Lampung. Dari panorama pantai yang berpasir putih, bertebing curam dengan hempasan ombak menerpanya membuat semuanya menjadi hal terindah bagi mereka.





Pada hari II, pelaksanaan lomba memancing pun di mulai. Dengan berkendara jukung (kapal tradisional) para peserta di antar menuju lokasi tempat pemancingan yang berada di mulut teluk induk (Teluk Semaka). Tak kurang dari 30 menit, sampailah para peserta ke areal pemancingan. Keadaan perairan relatif bersahabat pada hari itu, dengan kondisi tersebut maka tak heran mereka semakin bersemangat untuk segera berburu ikan-ikan besar yang sering ditemukan di wilayah perairan ini. Jenisnya cukup beragam, seperti Jack Fish (Simba), Lemadang (Dolphin head), dan Tenggiri. Hingga sore hari pelaksanaan lomba memancing ini diadakan dan akhirnya terpilihlah para pemenang perlombaan tersebut dengan tangkapan ikan jenis Tenggiri (10,5 kg), Lemadang (10 kg), dan Simba (8 kg).






Untuk menghibur para peserta, malam harinya tak kurang dari 2 band lokal lampung menyanyikan lagu-lagu demi membuat relax peserta yang seharian berkutat dengan kegiatan mereka dan semuanya terkemas dalam satu tema "dari anda untuk anda"...




Hingga tak terasa hari terakhir berlalu. Sebelum upacara penutupan, para peserta melakukan kegiatan terakhir yakni Dolphin Tour. Hari terakhir inilah yang merupakan acara puncak dari kegiatan KFW 09 ini. Semoga, untuk ke depannya acara KFW akan menjadi lebih baik.



foto : fdawidodo, Rico S (Cikal)



Sunday, July 12, 2009

Cobia oh...Cobia...

Mengenal Cobia Lebih Dekat (part 1)
By Fda widodo

Cobia?Apakah itu?
Cobia adalah salah satu nama jenis ikan yang baru-baru ini dikenal sebagai salah satu jenis ikan berpotensi tinggi secara ekonomi dan telah banyak dibudidayakan secara besar-besaran dihampir penjuru dunia, salah satunya Indonesia.

Cobia yang dulunya memiliki nama keren Gasterosteus canadus oleh Carolus Linnaeus pada tahun 1766 lalu diubah kembali oleh belia menjadi Rachycentron candum. Sebenarnya banyak istilah untuk menyebutkan nama ikan yang mirip ikan lele ini. Dalam bahasa Inggris, ikan Cobia dikenal dengan sebutan black kingfish, black salmon, cabio, crabeater, cubby yew, kingfish, lemonfish, ling, prodigal son, runner, sergeant fish, and sergeantfish. Namun di Malaysia, ikan ini dikenal dengan sebutan aruan tasek, gabus laut, jaman. Di Spanyol dikenal dengan bacalao, Pejepalo, cobie atau bonito, sedangkan di Portugis biasanya disebut dengan bacalhau atau peixe-sargento. Untuk negara Arab, ikan ini dikenal dengan sebutan Seekel, kumi nu'aakhr, Segel, goada, Seheeha, Sikel, ataupun Sikin. Di Jepang disebut dengan Sugi, Somalia disebut dengan Takho, Jermas sebagai Offizierfisch, Perancis disebut Mafou,dan di Indonesia dikenal sebagai Mondoh (Jawa)

Bagaimana kita menemukan Cobia?
Cobia merupakan jenis ikan yang tersebar di hampir seluruh wilayah perairan tropis, subtropis, dan perairan yang hangat lainnya. Di perairan Atlantik, ikan yang merupakan jenis ikan pelagis ini tersebar dari mulai Canada (Nova Scotia), Argentina Selatan, termasuk juga Laut Karibia. Ikan ini melimpah di perairan hangat di pesisir Amerika, dari mulai Teluk Chesapeake bagian Selatan hingga Teluk Meksiko.

Selama musim Gugur dan Dingin, Cobia bermigrasi dari Selatan menuju daerah yang lebih hangat. Cobia sangat suka pada perairan yang relatif hangat, pada suhu antara 68�-86�F atau 20 C - 30 C. CObia juga menyukai daerah yang memilik terumbu karang baik. Selain terumbu karang, bangkai kapal karam pun dijadikan rumah bagi mereka.

Pada musim panas, Cobia akan bermigrasi dari Moroko hingga Afrika Selatan dan Indo-Pasifik bagian Barat dari Afrika Timur dan Jepang ke Australia. Cobia belum pernah ditemukan di Samudera Pasifik bagian Timur.


Lalu, bagaimanakah rupa Cobia itu sendiri?




Seperti inilah Cobia itu sendiri. Di Provinsi Lampung, tepatnya di daerah Tanjung Putuhs Kab Pesawaran, Cobia telah dikembangkan dalam Keramba Jaring Apung (KJA). Walaupun masih dibudidayakan dalam jumlah sedikit, Cobia telah mulai dilirik sebagai salah satu ikan budidaya yang bernilai ekonomis tinggi dibandingkan Kerapu Bebek ataupun Kerapu Macan yang sudah lama dikembangkan di daerah Tanjung Putus ini. Para pemiliki keramba yakin, dengan adanya pengembangkan budidaya Cobia yang ada sekarang, tentunya akan menambah income mereka, apalagi tentang teknik budidaya yang dikembangkan ditunjang dengan adanya pendampingan dari Balai Budidaya Laut Provinsi Lampung.

sumber:
dari berbagai literatur.

foto:fdawidodo doc


Monday, May 04, 2009

Gold Mining Phenomenon

Kisah Pencari Emas di Sekotong - Lombok Barat
Oleh. fda widodo


Sekotong merupakan salah satu kecamatan di wilayah kabupaten Lombok Barat. Kecamatan yang sebagian wilayahnya merupakan pesisir pantai dengan panorama indah dengan hamparan pasir putihnya adalah kecamatan yang kaya akan potensi panorama alam. Hal inilah, maka tak heran jika pemerintah Kota Mataram menjadikannya sebagai daerah yang berpotensi secara geografis alamnya selain kabupaten lain di wilayah Nusa Tenggara Barat. Wilayah Sekotong sendiri dapat ditempuh dari Kota Mataram selama kurang lebih 2 jam dengan berkendara roda empat ke arah Timur kota.

 

Satu hal yang unik telah terjadi di Sekotong sekarang. Masyarakat yang tadinya bermatapencaharian sebagai nelayan ataupun petani kebun, kini telah banyak berganti profesi sebagai pencari emas. Hal ini diakibatkan telah ditemukan sumber emas di wilayah perbukitan Sekotong. Tidak hanya perbukitan saja, tetapi wilayah punggungan bahkan tepian bukitpun tak lepas dari incaran para pencari emas tersebut. Para pencari emas yang umumnya berkelompok ini tersebar merata di sepanjang perbukitan yang ada di Sekotong. Konon, para pencari emas ini berjumlah ribuan dan telah melakukan penggalian selama berbulan-bulan.

Dari salah seorang pencari emas, dari setiap kilogram batuan yang diangkut dapat dihasilkan bergram-gram emas. Hingga tak salah jika salah seorang pencari emas yang tadinya berprofesi sebagai pencari kayu bakar dan berkebun telah dapat merubah nasibnya menjadi seorang pengusaha emas dan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya hingga berlebih dan mampu membeli 1 unit kendaraan roda empat. Selain itu juga, telah menjadi rahasia umum di antara pencari emas tersebut bahwa beberapa waktu lalu seorang pencari emas mendapatkan emas hingga 20 Kg dari bongkahan batu yang dihancurkannya.

Ternyata, kabar tersebut tidak hanya terdengar di wilayah Lombok saja tetapi telah menyeberang hingga di luar pulau. Hingga akhirnya pendatang dari wilayah lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, dan pulau-pulau tetangga berdatangan untuk mengadu nasib di Sekotong demi impian seonggok emas yang ada di benak mereka. Dan kini, Sekotong telah ramai dihuni oleh para pencari emas.
 

Adapun cara pencari emas tersebut cukup unik untuk mendapatkan emas itu sendiri. Mereka menggali sisi punggungan bukit atau juga tepian bukit, kemudian batuan hasil penggalian dipecah kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam karung yang kemudian diangkut menuju tempat pemrosesan lebih lanjut. Mereka ternyata telah mengenal air raksa (Hg) yang merupakan cairan penting dalam pemisahan bijih emas dari materi lain. Namun, mereka enggan mengutarakan bagaimana perlakuan sisa buangan yang telah tercampur dengan logam berat tersebut.


Tidak jelas asal muasal timbulnya transformasi yang ada di Sekotong ini. Pemerintah daerah pun cenderung mendiamkan saja apa yang terjadi terhadap wilayahnya sekarang. Tapi yang jelas, kondisi perbukitan di Sekotong telah menjadi seperti lubang-lubang sarang lebah yang tersebar dari perbukitan hingga sisi bawah perbukitan. Tentang air raksa yang diikutkan dalam pencarian emas itu sendiri seperti hanya isapan jempol saja. Sadar ataupun tidak, mereka telah bercengkrama dengan bahaya itu sendiri. Hal ini terletak pada penanganan logam berat berupa cairan yang terkenal akan bahayanya jika terlepas di alam. Secara samar masih berbekas diingatkan kasus Minamata di Jepang dan juga kasus yang telah menjadi isu internasional di perairan Teluk Buyat. Akankah hal ini tetap akan dilanjutkan untuk dikemudian hari?


 Lombok, 28-30 April 2009.

kredit foto
: fda widodo


Let's Know About One of Coral Reef Rehabilititions

Transplantasi Terumbu Karang
Salah Satu Cara Program Rehabilitasi Terumbu Karang
Oleh. fda widodo

Apakah Terumbu Karang itu?
Terumbu karang merupakan bangunan kapur (CaCO3) atau kalsium karbonat yang merupakan buah karya antara hewan karang dan tumbuhan bersel satu yang dinamakan dengan zooxanthelae. Jadi, terumbu karang merupakan rumah bagi mereka berdua.

Jadi, Terumbu Karang itu hewan atau tumbuhan?
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, terumbu adalah bangunan yang terbuat dari kerangka kapur. Sedangkan karang itu sendiri merupakan hewan. Jadi, terumbu karang merupakan satu kesatuan rumah yang didominasi oleh hewan karang.

Terus, kenapa terumbu karang itu warnanya beragam?
Telah diketahui jika hewan tidak memiliki zat penghasil warna. Hanya tumbuhanlah yang memiliki kemampuan untuk itu. Zat warna ini dihasilkan oleh bagian sel yang bernama kloroplas. Sehingga dengan banyaknya ragam warna yang terlihat pada terumbu karang dapat dibuktikan jika terumbu karang tidak hanya hewan saja yang mendiaminya, melainkan kerabat dekat nya tumbuhan (algae) pun turut membantu segala kinerja dari hewan karang. Ujud dari bantuan algae yang dalam hal ini adalah algae sel satu adalah dengan mendepositkan makanan yang dihasilkan dari proses fotosintesa sebagai pajak atas tumpangannya pada terumbu karang. Makanan dari si algae inilah yang kemudian digunakan hewan karang untuk asupan energinya untuk membangun rumah (kerangka kapur). Konon, hampir 50% jumlah energi tersebut dari deposit algae sel satu tersebut.

 
Gambar 1. Terumbu karang dari jenis Acropora donei, merupakan salah satu terumbu yang elok untuk dipandang.


Apakah yang memiliki terumbu dan algae sel satu hanya terumbu karang saja?
O tidak. Bangunan terumbu yang terdiri dari zat kapur dapat ditemukan pada hewan laut lain yang memiliki bangunan yang terdiri kapur juga. Hewan ini adalah kerang (Kima Tridacna sp) ataupu keong. Sedangkan algae sel satu dapat ditemukan pada kerabat terumbu karang lain, seperti karang lunak (Sarcophyton sp), Kerang Tridacna gigas, T. squamosa, atau Tridacna
lainnya. Ciri khas adanya algae sel satu adalah bahwa permukaan tubuh hewan memiliki ragam warna jika dibandingkan antara satu dengan yang lain.
 
Gambar 2. Kima atau Tridacna sp, merupakan contoh bangunan kapur non karang dan juga di kima dapat ditemukan algae sel satu zooxanthelae pada permukaan 'daging'nya.


Bagaimana dengan Transplantasi karang itu sendiri?
Transplantasi terumbu karang merupakan salah satu metode untuk memperbanyak jumlah terumbu karang dengan cara cepat. Caranya adalah dengan mengambil fragmen terumbu karang, lalu menempelkan pada substrat yang telah disediakan. Umumnya substrat yang dipakai merupakan blok semen+pasir. Kemudian fragmen terumbu atau bibit karang itu diikat pada substrat tersebut. Kegiatan transplantasi karang merupakan salah satu kegiatan untuk merehabilitasi karang pada wilayah terumbu karang yang telah mengalami kehancuran.


Gambar 3. Bibit karang yang disusun pada rak dan dilekatkan pada substrat buatan.



Apakah setelah itu bisa tumbuh?
O, tidak semudah itu. Kegiatan transplantasi itu sendiri tidak hanya melulu pada proses pemindahan bibit dan pengikatan pada substrat saja, melainkan juga menyangkut tentang perawatannya. Perawatan ini ditujukan pada pembersihan substrat buatan karang dari gangguan makhluk lain yang memiliki pertumbuhan lebih cepat, seperti makro algae atau biota pengganggu lain. Untuk pertumbuhan karang hasil transplantasi itu sendiri tergantung pada jenis ataupun bentuk pertumbuhan karang. Bentuk pertumbuhan bercabang relatif lebih cepat dibandingkan dengan bentuk pertumbuhan massive (bulat padat). Dari hasil penelitian yang ada, ternyata bentuk bercabang jika dirawat selama kegiatan transplantasi dapat tumbuh 5 - 9 cm per tahun, sedangkan bentuk pertumbuhan massive hanya 1 - 2 cm per tahunnya.

Gambar 4. Rangkaian perawatan hasil transplantasi karang merupakan kegiatan wajib untuk mendapatkan hasil optimal bagi kegiatan rehabilitasi terumbu karang.

OK deh!!!
Yah, seiring dengan berlalunya waktu, kegiatan transplantasi kini telah dikembangkan untuk pembudidayaan karang-karang hias yang nilai ekonomis tinggi bagi para pembudidaya di wilayah pesisir. Sekarang karang hias hasil budidaya telah banyak di ekspor baik lokal maupun internasional. Hal ini membuat para pembudidaya mengembangkan program F2 atau F3. Filial (F) merupakan keturunan dari hasil budidaya. Pada F1 merupakan hasil transplantasi dari Parental (P) alami yang kemudian dijadikan sebagai P1 untuk induk hasil transplantasi. F1 atau P1 inilah yang kemudian akan diperbanyak melalui transplantasi secara berkesinambungan.

foto kredit : fda widodo doc. dan Bapak Surya Saputra