Wednesday, July 29, 2009

Condong Island - Lampung Province

Antara ' the three musketeer' Pulau Condong Laut - Bule - Condong Darat
oleh. fdawidodo

Perjalanan kali ini tak akan jemu kulakukan. Bersama rekan dari Jakarta, seorang konsultan beranjaklah kami dari kehingarbingaran kota Bandar Lampung menuju salah satu pulau kecil di Kabupaten Lampung Selatan, Pulau Condong Laut namanya. Dengan menyeberang dari Desa Rangai dengan memakai speed boat agaknya tak membutuhkan waktu lama mendekati serakan pulau-pulau yang berada di daerah Katibung, Lampung Selatan ini (5 menit). Pulau-pulau tersebut adalah Pulau Condong Laut, Condong Darat, dan Bule.

Pulau Condong Laut yang merupakan sasaran utama kunjungan kami kali ini merupakan pulau tak berpenghuni. Pulau yang memiliki luas sekitar 47 Ha ini bertopografi landai hingga dataran tinggi, sehingga sepintas jika terlihat dari jauh seperti bukit kecil yang menjulang di atas permukaan laut. Selain tak berpenghuni, pulau ini merupakan salah satu tujuan wisata pulau yang ditawarkan dari pihak pengelola Taman Hiburan Rakyat Pasir Putih Provinsi Lampung.

Tujuan kami ke Pulau Condong ini adalah untuk mengetahui segala bentuk aktivitas yang berlangsung di pulau kecil, seperti aktivitas nelayan ataupun aktivitas lainnya. Oleh karena Pulau Condong Laut tak berpenghuni, maka kami memilih pulau tetangga, yakni Pulau Bule. Sebenarnya kami ingin juga ke Pulau Condong Darat, tapi karena pulau ini milik seseorang (TW) yang sangat terkenal di Negara Indonesia maka kami mengurungkan niat untuk menyambangi pulau yang telah dibangun villa asri dan dermaga sandar kapal pesiar ini.

Hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit ke arah Barat Daya dari Pulau Condong Laut, tibalah kami di Pulau Bule. Pulau yang memiliki luas lebih dari 25 Ha ini ternyata telah dihuni oleh para petani Keramba yang mengusahakan ikan Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis) dan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscogutattus) dalam keramba jaring apung (KJA). Mungkin sekitar 500 m persegi luasan keramba yang dipunyai salah satu pengusaha kerapu ini.



Gambar 1. Disebelah Utara Pulau Bule dapat terlihat Pulau Condong Laut dan sebelah Timur Laut terlihat panorama Pulau Condong Darat.

Selain ikan konsumsi tinggi (Kerapu), pengusaha keramba (Pak Harry - red) juga melakukan pembesaran terhadapa berbagai jenis ikan ekonomis lainnya, seperti Kakap Merah/Red Snapper (Lutjanus sp), Simba/Traveller (Gnathanodon speciosus), berbagai jenis parrot fish, ikan hias serperti Angel Fish (Heniochus sp), dan lain sebagainya.





Gambar 2. Beberapa jenis ikan ekonomis selain kerapu yang turut dibesarkan dalam keramba jaring apung seperti ikan hias, ekor kuning/yellow tail, parrot fishes, traveller fish, dll

Dari pantauan kami, agaknya usaha budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung di Pulau Bule ini tidak luput dari persoalan utama yang dihadapi oleh banyak pengusaha keramba lainnya. Seperti halnya menurut penuturan Pak Harry, "Tahun 2007 - 2008 merupakan masa kebangrutan kami, mas. Karena pada saat itu, kami benar-benar tidak bisa panen akibat kematian massal yang terjadi pada jenis ikan kerapu dalam keramba. Ini tidak hanya terjadi di daerah ini, tetapi di semua tempat di Indonesia bahkan di luar negeri pun merasakan imbas dari bencana hebat ini. Kami sendiri tidak tahu persis penyebab dari bencana hebat itu."

Setelah mendengar cerita Pak Harry yang cukup tragis, berdasarkan sedikit pengalaman yang pernah saya alami sebenarnya ada beragam faktor yang menyebabkan satu usaha budidaya kerapu menjadi tidak berhasil, Pak. Selain karena faktor manusia (penggunaan potassium dan pengeboman disekitar areal keramba), faktor alam (gelombang dan arus besar), skill petani keramba (cara perawatan ikan dll), juga adanya faktor biologis seperti adanya parasit ataupun bakteri yang relatif sangat mudah sekali menjangkiti ikan dalam keramba. Umumnya parasit yang menjadi momok bagi pengusaha ikan kerapu adalah parasit Diplectanum (monogenetik trematoda insang) dengan jenis Benedenia sp dan bakteri Vibrio sp. Selain itu juga beberapa parasit (jamur) yang menyebabkan kulit berbecak putih (white spot) dan bahkan parasit viral (virus) pun turut menyebabkan si kerapu menjadi lemas dan akhirnya mati. Kematian yang ditimbulkan oleh adanya parasit dan bakteri tersebut amatlah cepat karena pada umumnya mereka (jenis-jenis parasit) memiliki virulensi tinggi sehingga hanya membutuhkan waktu singkat untuk menyebabkan satu areal keramba akan kehilangan seluruh ikan budidayanya dalam hitungan jam hingga hari.

Untuk mengatasi ataupun mengurangi dampak kematian massal yang mewabah, sebenarnya ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang pengusaha salah satunya adalah melakukan treatment berupa penambahan multivitamin pada ikan kerapunya. Selain itu juga, faktor lain seperti kebersihan dari jaring keramba cukup berperan penting dalam satu usaha mencegah terjadinya wabah penyakit. Hal ini membutuhkan sedikit kerja keras dan keuletan dan pelaksanaan budidaya.

Cukup lama kami berada di areal keramba Pulau Bule ini. Hingga saatnya setelah dirasakan cukup, kamipun berkemas untuk kembali lagi melanjutkan perjalanan kami yang masih cukup panjang.




Katibung, July 2009

foto kredit: fdawidodo


No comments: