By Fda widodo
Cobia?Apakah itu?
Cobia adalah salah satu nama jenis ikan yang baru-baru ini dikenal sebagai salah satu jenis ikan berpotensi tinggi secara ekonomi dan telah banyak dibudidayakan secara besar-besaran dihampir penjuru dunia, salah satunya Indonesia.
Cobia yang dulunya memiliki nama keren Gasterosteus canadus oleh Carolus Linnaeus pada tahun 1766 lalu diubah kembali oleh belia menjadi Rachycentron candum. Sebenarnya banyak istilah untuk menyebutkan nama ikan yang mirip ikan lele ini. Dalam bahasa Inggris, ikan Cobia dikenal dengan sebutan black kingfish, black salmon, cabio, crabeater, cubby yew, kingfish, lemonfish, ling, prodigal son, runner, sergeant fish, and sergeantfish. Namun di Malaysia, ikan ini dikenal dengan sebutan aruan tasek, gabus laut, jaman. Di Spanyol dikenal dengan bacalao, Pejepalo, cobie atau bonito, sedangkan di Portugis biasanya disebut dengan bacalhau atau peixe-sargento. Untuk negara Arab, ikan ini dikenal dengan sebutan Seekel, kumi nu'aakhr, Segel, goada, Seheeha, Sikel, ataupun Sikin. Di Jepang disebut dengan Sugi, Somalia disebut dengan Takho, Jermas sebagai Offizierfisch, Perancis disebut Mafou,dan di Indonesia dikenal sebagai Mondoh (Jawa)
Bagaimana kita menemukan Cobia?
Cobia merupakan jenis ikan yang tersebar di hampir seluruh wilayah perairan tropis, subtropis, dan perairan yang hangat lainnya. Di perairan Atlantik, ikan yang merupakan jenis ikan pelagis ini tersebar dari mulai Canada (Nova Scotia), Argentina Selatan, termasuk juga Laut Karibia. Ikan ini melimpah di perairan hangat di pesisir Amerika, dari mulai Teluk Chesapeake bagian Selatan hingga Teluk Meksiko.
Selama musim Gugur dan Dingin, Cobia bermigrasi dari Selatan menuju daerah yang lebih hangat. Cobia sangat suka pada perairan yang relatif hangat, pada suhu antara 68�-86�F atau 20 C - 30 C. CObia juga menyukai daerah yang memilik terumbu karang baik. Selain terumbu karang, bangkai kapal karam pun dijadikan rumah bagi mereka.
Pada musim panas, Cobia akan bermigrasi dari Moroko hingga Afrika Selatan dan Indo-Pasifik bagian Barat dari Afrika Timur dan Jepang ke Australia. Cobia belum pernah ditemukan di Samudera Pasifik bagian Timur.
Cobia adalah salah satu nama jenis ikan yang baru-baru ini dikenal sebagai salah satu jenis ikan berpotensi tinggi secara ekonomi dan telah banyak dibudidayakan secara besar-besaran dihampir penjuru dunia, salah satunya Indonesia.
Cobia yang dulunya memiliki nama keren Gasterosteus canadus oleh Carolus Linnaeus pada tahun 1766 lalu diubah kembali oleh belia menjadi Rachycentron candum. Sebenarnya banyak istilah untuk menyebutkan nama ikan yang mirip ikan lele ini. Dalam bahasa Inggris, ikan Cobia dikenal dengan sebutan black kingfish, black salmon, cabio, crabeater, cubby yew, kingfish, lemonfish, ling, prodigal son, runner, sergeant fish, and sergeantfish. Namun di Malaysia, ikan ini dikenal dengan sebutan aruan tasek, gabus laut, jaman. Di Spanyol dikenal dengan bacalao, Pejepalo, cobie atau bonito, sedangkan di Portugis biasanya disebut dengan bacalhau atau peixe-sargento. Untuk negara Arab, ikan ini dikenal dengan sebutan Seekel, kumi nu'aakhr, Segel, goada, Seheeha, Sikel, ataupun Sikin. Di Jepang disebut dengan Sugi, Somalia disebut dengan Takho, Jermas sebagai Offizierfisch, Perancis disebut Mafou,dan di Indonesia dikenal sebagai Mondoh (Jawa)
Bagaimana kita menemukan Cobia?
Cobia merupakan jenis ikan yang tersebar di hampir seluruh wilayah perairan tropis, subtropis, dan perairan yang hangat lainnya. Di perairan Atlantik, ikan yang merupakan jenis ikan pelagis ini tersebar dari mulai Canada (Nova Scotia), Argentina Selatan, termasuk juga Laut Karibia. Ikan ini melimpah di perairan hangat di pesisir Amerika, dari mulai Teluk Chesapeake bagian Selatan hingga Teluk Meksiko.
Selama musim Gugur dan Dingin, Cobia bermigrasi dari Selatan menuju daerah yang lebih hangat. Cobia sangat suka pada perairan yang relatif hangat, pada suhu antara 68�-86�F atau 20 C - 30 C. CObia juga menyukai daerah yang memilik terumbu karang baik. Selain terumbu karang, bangkai kapal karam pun dijadikan rumah bagi mereka.
Pada musim panas, Cobia akan bermigrasi dari Moroko hingga Afrika Selatan dan Indo-Pasifik bagian Barat dari Afrika Timur dan Jepang ke Australia. Cobia belum pernah ditemukan di Samudera Pasifik bagian Timur.
Lalu, bagaimanakah rupa Cobia itu sendiri?
Seperti inilah Cobia itu sendiri. Di Provinsi Lampung, tepatnya di daerah Tanjung Putuhs Kab Pesawaran, Cobia telah dikembangkan dalam Keramba Jaring Apung (KJA). Walaupun masih dibudidayakan dalam jumlah sedikit, Cobia telah mulai dilirik sebagai salah satu ikan budidaya yang bernilai ekonomis tinggi dibandingkan Kerapu Bebek ataupun Kerapu Macan yang sudah lama dikembangkan di daerah Tanjung Putus ini. Para pemiliki keramba yakin, dengan adanya pengembangkan budidaya Cobia yang ada sekarang, tentunya akan menambah income mereka, apalagi tentang teknik budidaya yang dikembangkan ditunjang dengan adanya pendampingan dari Balai Budidaya Laut Provinsi Lampung.
sumber:
dari berbagai literatur.
foto:fdawidodo doc
No comments:
Post a Comment